Kamis, 03 Maret 2016

JUS WORTEL

Hari ini kopi good day moccachino yang kuminum sedikit hambar.Dua minggu ini yang kuminum hanya jus wortel dengan sedikit gula. Dua minggu ini, tiap kali aku terbangun di pagi hari, hanya rasa syukur aku masih yang terlintas di pikiranku.
Jus wortel, aku mulai menyukai minuman ini sekarang.
Sejak aku rajin meminum jus wortel, kutemui kenyataan yang cukup menyayat hati. Dicampakkan orang yang selama ini kita sayangi, ujian loyalitas yang membuatku tersadar. Kau bukanlah orang yang membuat hatiku meletup.
Lalu siapa? Kapan?
Mungkin akan kutemui nanti ketika jus wortelku telah habis

Selasa, 01 Maret 2016

Selembar Kertas

Hidup bagaikan selembar kertas.
Kita terlahir ke dunia sebagai selembar kertas polos yang bersih. Kita menggoreskan tinta beraneka warna, menuliskan berbagai macam cerita sebebas bebasnya, sesuka kita, tanpa ada yang mendikte. Kecuali diri kita sendiri. Ya, diri kita sendiri.
Selembar kertas akan mudah terbang tertiup angin lalu terjatuh di kubangan air. Itulah Mengapa Tuhan menghadirkan lembaran-lembaran kertas yang lainnya, keluarga, sahabat, guru, rekan, bahkan orang asing. Kita menjadi kumpulan lembaran kertas dengan berbagai warna tinta dengan cerita yang tentu saja berbeda satu sama lain.
Kita harus mengikat lembaran-lembaran kertas itu hingga menjadi sebuah buku. Buku cerita yang padu dan penuh makna.
Kita ikat lembaran kertas itu dengan cinta. Antara lembaran kertas yang satu dengan lembaran kertas yang lain memiliki keterkaitan yang tak kita duga. Bisa karena warna tinta yang sama, atau latarbelakang cerita yang sama. Rahasia Tuhan yang indah, bukan?
Kita yang memutuskan warna tinta apa yang akan kita pakai, dimana setting cerita yang akan kita tulis, siapa saja tokoh yang akan terlibat. Tapi hanya sebagian saja, sebagian cerita lainnya dituliskan oleh Tuhan. Dia lah yang Maha Tahu cerita apa yang pantas untuk kita, siapa saja tokoh yang terbaik untuk kita.
Akan kuisi selembar kertasku dengan ceritaku. Aku yang merencanakan semuanya sendiri, dan Tuhan akan membantuku, mengedit ceritaku, memilihkan warna tinta, dan memilihkan tokoh-tokoh yang pantas untuk ceritaku yang indah. Ya, aku ingin menulis cerita yang indah untuk selembar kertas yang kumiliki ini. Cerita yang sangat indah.



Jumat, 12 Februari 2016

Cita-cita

Tulisan ini dibuat ketika gue sedang memikirkan sudut pandang yang baik untuk menceritakan kejadian luar biasa dua hari yang lalu.

Gue baru sadar ternyata potongan rambut gue ga beraturan. Iya, gue potong rambut. Rambut panjang gue.
Potongan rambut gue sekarang pendek sebahu, dengan lekukan tipis pada ujungnya.
Tiba-tiba gue berpikir 'kayaknya gue cocok jadi polwan', cita-cita gue waktu SD.
Sejak kecil kita pasti sering ditanya oleh guru kita, apa cita-cita kita.
Coba deh perhatikan 80% orang berubah-ubah cita-citanya. Ga pake survey sih, tapi ya dikira kira lah. Hehe
Cita-cita gue waktu SD ingin jadi polwan, masuk SMP gue ingin jadi astronot, pas SMA gue malah ingin jadi penulis profesional. Beda-beda dan ga nyambung. Entah apa yang gue pikirkan waktu itu. Sekarang, di usia 21 tahun, sudah lulus kuliah, gue jadi guru. Kemauan gue? Bukan. Gue ga mau? Ya....jalani aja.
Ada orang yang bilang, cita-cita itu bukan profesi apa yang kita inginkan. Cita-cita adalah cara yang kita pilih dalam menjalani hidup yang lebih baik. Ada juga orang yang bilang cita-cita itu visi hidup kita, tujuan yang ingin kita capai. Duh, bijak banget ya. Otak gue ga nyampe. Haha!

Apapun definisi cita-cita yang kita pahami. Cita-cita sangat baik untuk memotivasi kita, bukan kata ahli sih, kata gue, tapi gue ngerasain kok.
Ngelantur ya. Gimana mau jadi penulis profesional. Nulis ngga punya konsep, kebawa suasana sekitar. Haha