Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Love Ride (Fast Not Furious) Part 7


                Tak butuh waktu lama untuk Harun menemukan kantor Bang Yogi sesuai dengan petunjuk Bang Ade tadi. Kantor Bang Yogi bukan bangunan tinggi, cuman bengkel dan tempat cuci steam, serta ruko kecil yang dijaga oleh seorang perempuan. Bengkel #Maju Sejahtera#. ‘Nama yang klasik’ Batinku.
                “Mbak, Bang Yoginya ada?” Tanyaku.
                “Bang Yoginya lagi pergi” Jawabnya, ketus.
                “Kemana? Lama nggak ya?” Tanyaku lagi.
                “Nggak tau” Jawabnya, lebih ketus lagi.
                “Mbak bisa hubungi Bang Yoginya supaya cepet ke sini?”
                “Nggak. Emang kamu siapa sih? Ada perlu apa sama Bang Yogi?” Nada suaranya lebih tinggi dari yang tadi.
                “Eh, saya Kimi. Saya ada perlu sebentar sama Bang Yogi”
                “Kimi…………..” Gumam Mbak galak itu
                “Oh, Kimi! Nama kamu Kimi ya?” Seru perempuan itu, antusias.
                “Iy….Iya, Mbak” Jawabku, agak kaget mendengarnya.
                “Bang Yogi emang pernah pesen sama Mbak, kalau akan ada anak perempuan yang namanya Kimi akan datang ke sini”
                “Oh, gitu ya,Mbak” Kataku, heran. Kok Bang Yogi yakin banget ya aku bakalan datang.
                “Iya. Kamu sih nggak bilang dari tadi. Ya, udah Mbak telepon Bang Yoginya dulu ya. Kamu tungguin aja di sono noh”
                Aku duduk di bawah pohon rindang dengan cahaya matahari yang terpecah-pecah oleh daun menimpa wajahku, angin berhembus lembut meniup rambutku yang acak-acakan.
                “Kimi, lu nggak takut duduk di situ?” Tanya Harun.
                “Takut kenapa? Ada hantunya ya? Lu bisa Lihat hantu?”
                “Bukan gitu. Pohon yang akarnya lu dudukin itu kan pohon Durian, apa lagi buahnya banyak banget. Kamu nggak takut nanti ada Durian runtuh nyerbu kepala lu? Di sini anginnya kenceng banget. Bisa-bisa nanti lu yang jadi hantu penunggu pohon itu”
                “Hah?” Aku panik, melihat sekeliling. Aku melihat ke atas, buah durian yang banyak sekali itu bak akan jatuh. Aku langsung lari ke arah Harun. Memukulinya dengan kepalan-tangan-kesal.
                Kami menunggu di bawah pohon mangga yang buahnya sedang sepi. Tak lama Kemudian, Bang Yogi datang. Penampilannya benar-benar berbeda dengan penampilannya di dalam mobil angkot butut itu. Dulu dia memakai kaus oblong dengan celana jeans selutut. Sekarang, dia memakai kemeja lengan pendek dengan garis-garis vertikal yang beraturan. Di kantung sakunya terdapat bolpoin dan kaca mata hitam yang dilipat.  Dia memakai celana biru dokar yang sangat gelap. Diantara kemeja dan celananya, ada sabuk kulit hitam merekat erat.
                “Kimi….. Akhirnya kamu datang juga? Bagaimana? Kamu terima tawaran Abang atau nggak?” Sapa Bang Yogi dengan gembira.
                “Eh, sebenernya saya masih bingun Bang. Saya nggak ngerti apa yang…”
                “Udah…Abang tau kok. Bisa kita bicara empat mata aja?” Tanya Bnag Yogi, melirik ke arah Harun.
                “Oh, iya. Gue mau beli es dulu di sana ya” Kata Harun, sambil menunjuk ke arah warung kecil di pojok pekarangan. Tinggallah aku dan Bang Yogi. Aku tak tahu maksudnya, sunggguh. Tapi, aku tidak boleh berpikiran negatif.
                “Kimi? Abang cuman mau nanya. Tapi, kamu jawab dengan hati kamu. Apa kamu benar-benar mau belajar nyetir mobil?” Tanya Bang Yogi dengan serius.
                “Iy…Iya…. Tapi, saya juga bingung soal  biaya kursusnya. Saya mau tau dulu Bang” Jawabku.
                “Kimi…. Soal biaya kursus, gratis. Kamu hanya perlu datang ke lapangan kosong yang bekas pasar itu” Katanya.
                “Tapi, di dunia ini nggak ada yang sepenuhnya gratis. Kamu harus membayar, tapi bukan dengan uang. Melainkan pengorbananmu!” Lanjutnya. Aku kaget mendengarnya. Apa yang dimaksud dengan pengorbanan yang harus kubayar? Apa dia akan melakukan sesuatu yang jahat padaku?
                “Pengorbanan?”
                “Iya, pengorbanannya pun sangat mudah. Kamu bisa mengemudi mobil dengan baik. Berarti, kamu harus ikut lomba balapan mobil liar. Adil kan? Kamu mau?”
                “Balapan liar? Tapi, aku kan belum tentu bisa nyetir dengan baik. Kalau aku kalah gimana?”
                “Kimi…Kimi… Abang ini bukian orang sembarangan. Dulu abang itu juara balapan mobil liar di berbagai kota besar. Abang bisa melihat kemampuan seseorang dalam menyetir mobil hanya dengan melihat matanya. Dan kamu, sangat berbakat menjadi seorang pembalap! Jika bakat kamu diasah dan rajin berlatih. Kamu pasti menang. Apa lagi ini hanya balapan liar di kota kecil. Tapi, tetap ada pembalap handalnya juga”
                “Saya nggak yakin bang… Saya nggak tau soal itu…”
                “Nggak apa-apa Kimi. Kamu tak usah jawab sekarang. Kamu bisa pikirkan tawaran itu baik-baik dulu. Ini kesempatan bagus untuk kamu. Ikuti kata hatimu. Tapi, mikirnya jangan lama-lama ya…. Maksimal sampai minggu depan sudah ada jawabannya. Karena kamu akan berlatih keras”
                “Eh, iya Bang”
                “Ini nomor telepon Abang, nanti tinggal hubungi aja”
                “Eh, iya deh”
                “Ya, sudah. Abang tunggu keberanian kamu, Kimi” Aku mengangguk. Bang Yogi bergegas ke kantornya yang mungil. Harun menghampiriku. Dia bertanya tentang apa yang tadi aku bicarakan dengan Bang Yogi. Tapi, aku tak menjawabnya. Kurasa Harun tidak boleh tahu akan hal itu. Aku memaksanya untuk segera pulang.
                Di perjalanan Harun masih bertanya tentang apa yang aku bicarakan tadi. Terpaksa aku berbohong. Harun sangat bawel dan suaranya berisik. Hampir menyaingi Nunung. Aku bilang kalau biaya kursusnya mahal, karena aku masih di bawah umur. Untung dia percaya.
                “Ini rumah gue” Kataku, sesampainya kita di depan pintu gerbang.
                “Oh, ini. Jauh ya?”
                “He-eh…. Ayo masuk dulu” Ajakku.
                “Nggak usah, Kim. Udah sore, gue pulang aja. Takut kemaleman. Lain kali aja ya”
                “Ya, udah. Makasih ya, hati-hati di jalan”
                Harun memutar arah motor matiknya. Lalu, melaju kencang ke arah Utara. Pikiranku masih dipenuhi kata-kata Bang Yogi tentang balapan liar. Aku tahu sedikit tentang balapan liar. Itupun aku tahu dari film favoritku The Fast and The Furious. Tapi, aku nggak tahu kalau di kota kecil tempatku tinggal ini ada ajang balapan liar juga. Jujur, aku penasaran tentang balapan liar. Aku ingin ikut…. Apa ini yang namanya kata hati? Argh!! Akukan masih sekolah dan sebentar lagi aku akan menghadapi yang namanya Ujian Nasib, eh Ujian Nasional. Ngapain mikiran hal yang kaya gitu… Kimberly, ‘Fokus ke sekolah’. Pikiranku kacau lagi.

Apa jawaban Kimi padaa bang Yogi? Tunggu cerita selanjutnya ya!!!!

Love Ride (Fast Not Furious) Part 6


                  Bel tanda dipersilahkannya para murid untuk pulang terdengar sangat merdu, walaupun sebenarnya aku nggak tau tepatnya tema dari melodi bel tersebut.  Aku membereskan semua buku yang berserakan di atas mejaku. Lalu, menghampiri Harun.
                “Run, gue boleh minta tolong nggak?” Tanyaku.
                “Boleh. Selama gue bisa melakukannya, apa aja aku siap” Jawabnya.
                “Oh, begitu. Gue lagi nyari orang nih. Tapi aku nggak tahu harus mulai nyari dari mana. Bisa kan?”
                “Um, oke deh… Emang orangnya siapa? Kenapa nggak menghubungi tim reality show aja?”
                “Korban tivi lu!! Dia cuman sopir angkot kok. Tapi, gue nggak ketemu dia lagi.  Makanya gue mau nyari dia”
                “Wah, Emangnya kenapa nyari sopir angkot? Kamu dicopet? Atau diancam? Atau mau nagih uang kembalian?”
                “Nggak kok. Gue ada perlu aja sama dia”
                “Oh, perlu apa?”
                “Nanti deh  dijelasinnya”
                “Ya, udah. Ayo berangkat” Harun tersenyum manis.
                “Kimi!! Kimi!! Tunggu!!” Teriak Nunung dari kejauhan.
                “Ada apa?” Tanyaaku, heran.
                “Gue mau ngomong sesuatu sama lu, tapi berdua aja” Jawab Nunung. Berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
                “Oh, ya udah. Gue ke parkiran dulu aja nanti gue nunggu lu di pintu gerbang, jangan lama-lama ya” Kata Harun. Lalu dia berlari sendirian.
                “Ngomong apaan sih. Kok nggak dari tadi siang?” Tanyaku, heran.
                “Gua juga baru tahu tadi, Kim. Rama ikutan acara amal lingkungan Club Go Green Teen loh, padahal kan kelas tiga gak wajib ikut. Ikut yuk!  Acaranya  hari ini, kalau lu mau ikutan kita bisa daftar sekarang. Cepetan!!” Nunung menarik tanganku.
                “Gue nggka mau ah. Ngapain juga ikut acara kayak gitu”
                “Kok gitu sih? Lu kan anggota club Go Green Teen. Masa nggak ikut?”
                “Gua udah sering ikut acara amal. Bosen! Lagian, kalau amal dilakukan nggak ikhlas nggak akan ada manfaatnya”
                “Tapi, Rama ikut loh!”
                “Terus kenapa kalau Rama ikut. Biarin aja, nggak ada urusannya sama gue kan?”
                “Lu kan suka sama Rama…. Lu jangan nyerah gitu aja, Kim… Gue tahu perasaan lu yang sebenernya ke Rama”
                “Aduh, terserah deh… Lagian hari ini gue sibuk”
                “Sibuk apa? Jalan sama Harun? Dia kan anak badung, Kim”
                “Emangnya kenapa? Lu jangan bicara yang nggak-nggak ya, Nung. Walaupun dia itu badung, tapi dia baik kok. Udah ah… Kasian Harun, nungguin gue”
                “Ya, udah. Gue nggak maksa. Tapi, plis, Kim. Jujur sama hati lu sendiri!”
                Aku pergi meninggalkan Nunung sendirian di koridor. Aku juga ingin jujur sama hati aku sendiri, Nung. Tapi, untuk apa? Toh, Rama nggak suka sama aku. Cintaku bertepuk sebelah tangan.

                “Lama ya? Sorry, tadi Nunung bawel banget sih”
                “Nggak apa-apa kok, ayo naik!”
                Motor matic Harun melaju sedang pada kecepatan 50. Sumpah, berasa kayak diboncengin sama nenek-nenek
                “Um, jadi kita ke mana nih?” Tanya Harun.
                “Kita langsung ke terminal aja”
                “Sebenernya lu ada perlu apa sih sama si sopir angkot itu?”
                “Tempo hari gue ditawarin belajar nyetir mobil sama sopir angkot itu. Tapi, gue belum jawab. Sekarang, gue mau kasih jawabannya”
                “Oh, gitu…. Kok lu mau belajar nyetir mobil sih? Kenapa?”
                “Suka aja”
               
                Sesampainya di terminal dekat pasar, tempat mobil angkot mangkal, aku langsung tengok kanan-kiri. Harun menitipkan motornya di warung kecil di pinggir jalan.
                Aku mengecek satu persatu sopir angkot dan para calo. Siapa tahu itu Bang Yogi. Tapi, hasilnya nihil.
                “Kimi? Lagi ngapain?” Tanya Bang Ade, tetanggaku yang sering nongkrong di terminal.
                “Eh, lagi anu Bang” Jawabku, asal.
                “Anu apa? Oh, kamu lagi jalan-jalan sama pacar kamu ya?” Tanya Bang Ade lagi, melirik ke arah Harun.
                “Bu..buk..an kok. Kimi lagi nyari sopir angkot”
                “Oh, mau naik angkot? Kenapa nggak dari sekolahan aja?”
                “Bukan gitu, Kimi ada perlu sama sopir angkot itu”
                “Emangnya, siapa?”
                “Namanya Bang Yogi, Abang kenal nggak?”
                “Kalau sopir angkot yang namanya Yogi, Abang nggak kenal. Kayaknya nggak ada deh sopir angkot yang namanya Yogi. Ada juga mandor angkot. Namanya emang Bang Yogi”
                “Tapi, dia sopir angkot, Bang”
                “Yang namanya Yogi yang terkenal di Terminal ini, ya cuman Bang Yogi, mandor angkot”
                “Oh, ya udah Kimi cari dia aja dulu. Siapa tau dia orangnya. Abang tau rumahnya?
                “Rumahnya Abang nggak tau. Tapi kalau kantornya Abang tau”
                “Jauh nggak Bang?” Tanya Harun.
                “Deket kok, tinggal lurus sampai perempatan ke dua terus belok kanan” Jawab Bang Ade sambil menunjuk-nunjukkan tangannya. Harun dengan seksama mengamati.
                “Oh, ya udah. Makasih ya Bang” Kata Harun.
                “Kim…Gue tahu tem… “ Harun terdiam. “Kimi?” Harun melihat sekeliling seperti orang kebingungan. Dia berlari ke arahku. Aku sudah duduk manis di jok belakang motornya Harun.
                “Lu ngapain?” Tanya Harun sambil mengernyit aneh padaku.
                “Nungguin lu lah, masa belanja. Cepetan naik, lu udah tau kan kantornya Bang Yogi dimana” Jawabku, tegas. Aku duduk tegak dengan posisi sempurna di jok bagian belakang. Harun geleng-geleng kepala.


Apakah pencarian Kimi berhasil? Bca cerita selanjutnya yaaaa :)

Rabu, 05 Oktober 2011

Love Ride (Fast Not Furious) Part 5


                 Dua minggu sudah kulewati sebagai murid kelas tiga SMA. Aku sudah Mendapatkan beberapa materi pelajaran dan tugas yang sangat banyak. Tetapi, kepalaku masih memikirkan tawaran belajar nyetir mobil sama Bang angkot. Aduh… Aku lupa namanya. Siapa ya? Yo…yo… apa gitu… Yoyo? Yono? Yoga? Yogi? Oh, iya namanya Bang Yogi.

                Waktuku yang sangat banyak di hari minggu tak cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas tanda selamat datang yang diberikan oleh para guru setiap mata pelajaran. Mengeluh tak ada gunanya. Aku masih saja sempat memikirkan Bang angkot itu. Apa aku diguna-guna ya? Ah, nggak mungkin. Wajahnya nggak mirip Ki Joko Bodo kok. Apa aku nyari dia aja ya? Soalnya hatiku nggak bisa tenang.

                “Kim, Kenapa sih lu melamun terus? Bahan diskusi kita udah ada belum?” Tanya Nunung, teman sebangkuku.
                “Udah ada. Lu tenang aja kali” Jawabku, sambil menyerahkan kertas-kertas yang terjilid rapih pada Nunung.
                “Wah, hebat…. Lu jadi pendiam Kim? Jarang kaluar kelas, nggak lagi ngejar-ngejar ayam Bu Kantin. Lu juga udah lama nggak ketemu Rama kan? Pasti kangen banget setelah lu tabrak dia  minggu yang lalu. Diem terus, ada apa sih?” Tanya Nunung, khawatir melihat temannya yang biasanya periang dan cerewet menjadi pendiam bak patung Belanda.
                “Nggak apa-apa kok. Gue cuman mau lebih konsentrasi belajar aja. Kan bentar lagi UN. Ngapain mikiran Rama” Jawabku, tegas.
                “Terserah lu deh!! Sebentar lagi juga lu curi-curi pandang lagi sama dia. Cinta lu itu udah nyangkut di hatinya Rama”
                “Prettt, ngomong apaan lu? Hari gini mikiran cinta? Cape deh” Kataku, sambil memegang jidatku yang lumayan lebar.
                “Terserah lu deh” Nunung geleng-geleng kepala. Lalu dia pergi ke luar kelas. Paling juga pergi ke kantin.
               
                “Hey! Diem aja Kim? Minggu ini lu masih ngirit uang jajan? Atau lu puasa lagi. Emang bener ya, Kimi itu rajin anaknya” Harun langsung duduk di sampingku. Tersenyum lebar dan sangat manis.
                “Eh, nggak kok. Males aja ke kantin. Rame, berisik lagi”
                “Hahahahaha…. Bisa aja” Harun mendorong tubuhku yang kurus kering dengan tangannya yang lebar.
                “Bisa aja lu, yang namanya kantin pasti rame lah. Kalau yang sepi di sono noh, kuburan. Hahahaha…Atau lu baru putus sama pacar lu. Terus, nggak mau kaluar kelas supaya nggak ketemu. Iya kan?”
                “Iiiiihhh…. Orang gua nggak punya pacar. Mau putus dari siapa?”
                “Oh, jomblo? Padahal Kimi kan anaknya manis. Kok jomblo ya?”
                “Hahahahah…” Aku terpaksa tertawa, nggak tahu mau ngomong apa.
                “Oh, iya. Lu pulang sama siapa?” Tanya Harun, sedikit serius.
                “Sendiri” Jawabku.
                “Naik apa?” Tanya dia lagi.
                “Um, mobil angkot. Emang kenapa?”
                “Angkot? Masa sih?”
                “Emangnya salah kalau gue naik angkot?”
                “Nggak sih. Tapi, lu kan manis. Nanti diculik loh”
                “Emangnya gue gula, manis? Lagi pula kalau gua ini manis, nggak bakalan ada yang nyulik. Kan yang naik angkot itu orang, bukan semut”
                “Hahahahaha…. Lu lucu ya Kim…. Ya, kalau mau sih. Nanti pulangnya gua anterin, lu mau nggak?” Tanya Harun, lebih serius lagi.
                “Nggak usah nanti gue ngerepotin. Lagi pula rumah gue jauh”
                “Ya, udah. Nggak apa-apa. Mungkin lain kali” Harun tersenyum lebih manis lagi.
***
                Di dalam mobil angkot, aku masih memikirkan sikap Harun kepada ku, dia baik juga. Aku melihat sekeliling angkot. Mengingat kejadian ketika aku berusaha keras membawa seorang wanita yang mau melahirkan. Mengingat bahwa nama bayi perempuannya itu Siti Kimberly. Aneh banget orang tua itu. Untung saja namaku bukan Siti Kimberly. Melainkan Kimberly Wijayanti.
                “Bang ada sopir angkot yang namanya Yogi nggak Bang?” Tanyaku.
                “Yogi? Nggak ada neng. Sopir baru, ya? Abang udah tiga tahun jadi sopir angkot nggak ada temen abang yang namanya Yogi”
                “Aduh gimana ya. Saya jadi bingung, Bang”
                “Yeh… Neng aja bingung, apa lagi Abang yang nggak tahu apa-apa”.
                Mobil berhenti di depan perempatan jalan menuju rumahku. Rute mobil angkot nggak lewat sana, walaupun jalannya lebar. Soalnya sepi sih.

                Esok harinya aku masuk sekolah seperti biasa. Di pelajaran terakhir, Bu Maya marah-marah. Karena ada beberapa anak yang nggak menyelesaikan tugasnya. Memang sih tugasnya sulit banget. Tapi, aku jawab aja. Mau bener mau nggak yang penting ngerjain. Nunung, salah satu dari murid yang nggak ngerjain tugas itu, menunduk ciut.
                “Kalian ini sudah kelas tiga. Sebentar lagi kalian akan menghadapi UN. Gimana sih kalian! Kalian seharusnya mencontoh Harun. Walaupun dia bandel dan males, tapi dia ngerjain tugas. Kalian malu dong! Contoh juga Kimberly, walaupun jawabannya salah semua, tapi dia udah ngerjain. Mau jadi apa kalian ini! Awas kalau kalian sekali lagi seperti ini. Ibu jamin kalian nggak akan lulus SMA” Teriak Bu Maya dengan galak.
                “Yah, bu jangan” Seorang anak mengeluh.
                “Jangan dong bu…” Semuanya serentak.
                “Kalian sendiri yang salah. Mau lulus SMA, kelakuan si kucing garong, eh, maksud ibu kayak anak TK. Seharusnya kalian ubah kebiasaan buruk kalian ini. Kurangi bermain, nongkrong dan hal-hal yang nggak berguna lainnya. Ya, sudah. Ibu maafkan kalian kali ini. Tapi, tetap akan ada hukuman buat kalian” Bu Maya kaluar kelas dengan muka yang penuh amarah. Aku sendiri merasa malu mendengar kata-kata Bu Maya tentangku tadi. Tapi, tak apa lah.

                Bel tanda dipersilahkannya para murid untuk pulang terdengar sangat merdu, walaupun sebenarnya aku nggak tau tepatnya tema dari melodi bel tersebut.  Aku membereskan semua buku yang berserakan di atas mejaku. Lalu, menghampiri Harun.
                “Run, gue boleh minta tolong nggak?” Tanyaku

Kira-kira Kimi mau minta tolong apa ya sama Harun? Baca cerita selanjutnya ya!!!

Love Ride (Fast Not Furious) Part 4


                 Hari-hari aku habiskan di sekolah. Beberapa orang belum akrab denganku, karena kelas kami diacak. Jadi, sekarang aku sekelas dengan beberapa orang yang waktu kelas dua nggak sekelas denganku. Intinya, kami belum begitu akrab, walaupun saling mengenal dengan baik. Malangnya, aku suka lupa nama orang. Tapi, itu tak masalah bagiku. Sikap konyolku kadang membuat orang lain prihatin dan memaklumi keadaanku ini.
                Semua guru yang masuk pada minggu ini hanya menjelaskan materi sekilas saja. Mereka semua sibuk berpidato mengenai Ujian Nasional.
                “Ya, kalian harus siap dalam menghadapi UN. Caranya dengan belajar tekun dan jangan sering membolos sekolah” Kata Pak Sidar, guru olah raga yang tubuhnya sangat atletis, mirip Ade Rai. Tapi, mukanya mirip Jojon.
                “Kalian juga harus memiliki tubuh yang sehat dan bugar agar bisa konsentrasi penuh saat kalian ujian nanti. Mengerti? Karena UN adalah penentu masa depan kalian sekarang. Kalau kalian tidak lulus maka kalian sendri yang akan malu, jadi kalian harus bersungguh-sungguh dalam menghadapinya” Katanya dengan mata melotot. Membuatku yang duduk di bangku paling depan takjub melihatnya.
                Aku tahu maksud para guru itu baik. Mereka ingin agar anak didiknya serius dalam belajar dan lulus dengan nilai yang baik. Tapi, kebanyakan dari mereka malah membuat para siswa ketakutan. Apa lagi siswi perempuan, bahkan ada yang menangis. Bisa-bisa mereka bunuh diri sebelum perang melawan UN. Kan repot jadinya.
               
                “Hey, melamun aja! Sendirian aja?” Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Lalu dia duduk di sampingku, tersenyum lebar.
                “Eh, lu tuh ngagetin gue tau!” Teriakku sambil mengelus-elus dadaku.
                “Maaf deh. Maaf, gitu aja marah. Kok nggak ke kantin sih? Lagi ngirit uang jajan ya? Sama dong kayak gue. Gue juga lagi ngirit uang jajan soalnya gue dihukum sama papah nggak dikasih uang jajan, cuman pas buat ongkos”Curhatnya. Aku tersenyum.
                “Oh, begitu. Um, nama lu itu Joko kan?” Tanyaku, ragu-ragu.
                “Joko? Emang gue mirip Ki Joko Bodo ya? Gue kan Harun. Masa lu nggak tahu sih” Jawabnya, kesal.
                “Maaf, bukan maksud gu…..”
                “Udah nggak apa-apa kok. Kata temen-temen sih lu emang suka lupa nama orang gitu. Gue maafin kok. Asal lu jangan sampe lupa nama lu aja, hahahaha….” Dia tersenyum manis.
                “Oh, jadi gue terkenal kayak gitu ya?” Tanyaku penasaran.
                “Iya, temen-temen sering ngomongin lu yang kadang-kadang konyol, galak, suka lupa nama orang lain, dan suka nabrak orang kalau jalan” Paparnya. Aku tertunduk malu. Jadi, selama ini semua orang nganggep aku anak aneh.
                “Nggak usah dipikirin. Menurut gue lu itu lucu loh. Lu juga baik, rajin dan suka nolong orang” Katanya. Dia selalu tersenyum manis setelah berbicara.
                “Oh, gitu ya? Heh, jadi malu juga ada yang ngomongin gue kayak gitu”
                “Hahahahahhahaa…” Suara tertawanya membuatku takut. Serem sih. Harun itu cowok ganteng tapi konyol. Kata orang sih dia pinter. Tapi, nakalnya nggak ada ampun deh. Suka ngejailin orang, bahkan guru pun tak terlewatkan.
                “Oy!!! Run, mau nggak nih gorengan gratis. Si Zaki ultah. Cepetan sini!” Teriak Bimo, teman sebangku Harun.
                “Yang bo’ong? Jangan habisin!! Sisain buat gue!” Teriaknya.
                “Cepetan sini!” Teriak Bimo lagi. Padahal mereka nggak usah teriak. Mereka kan cuman terpisah jarak dua baris meja. Lagi pula kelas kan lagi sepi. Dasar anak aneh.
                “Um, lu mau nggak, Kim?” Tanya Harun padaku.
                “Nggak usah. Gue lagi puasa” Jawabku penuh dusta. Emangnya puasa apa di hari Sabtu.
                “Oh, ya udah”

Selasa, 27 September 2011

Bukan salahku!!!





Halo, pernah mengalami pengalaman yang buruk? Semua mahluk hidup pasti pernah mengalami pengalaman, baik itu yang buruk maupun yang baik. Dan pada akhirnya semua mahluk hidup akan mengalami pengalaman yang paling buruk, yaitu kematian.
                Aku suka banget sama balapan. Sejak aku tahu dunia balapan dan sejak aku bisa nyetir motor. Bagiku, membawa kendaraan dengan pelan adalah hal yang membosankan. Kecepatan minimumku bisaanya 60 km/jam, kecepatan normal 80 km/jam, dan kecepatan maksimum 100 km/jam. Kecepatan yang wajar bagi cewek penakut kayak aku J
                Aku sering denger, perkataan orang tua, mereka bilang kalo “orang yang belum pernah mengalami kecelakaan nggak akan jago nyetir”. Entah dari mana mitos itu berasal. Tapi, pastinya kecelakaan adalah hal yang nggak menyenangkan. Aku pernah mengalami kecelakaan motor setahun yang lalu, dan hal itu masih menjadi mimpi buruk bagiku L
                Peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah ulangan umum smester satu. Ketika itu, aku sudah kelas tiga SMA. Biasanya setelah ulangan umum smester, sekolah mengadakan class meeting yang diisi odengan pertandingan olah raga dan permainan tradisional antar kelas selama satu minggu penuh. Aku sendiri ikut lomba maen congklak, dan langsung kalah pada babak penyisihan. Maen congklak aja kalah -_- #galau.
                Sebenarnya, selama class meeting berlangsung tidak ada absensi, jadi siswa boleh bolos. Suatu hari, ayahku menyarankan aku untuk nggak pergi ke sekolah. Tapi, aku memaksa pergi ke sekolah karena aku mau bantuin guru sejarah yang notabene guru terfavorit di sekolahku, untuk memeriksa jawaban ulangan umum para siswa. Maklum, murid teladan *diguyur Pembina osis berkumis baplang*.
                Di tengah perjalanan, ada seorang anak kelas satu SMP yang mengendarai motor Suzuki Skywave, yang bodinya besar dan berat itu. Dari kejauhan aku udah tau kalo bocah itu mau balik arah, karena dia memarkirkan motornya di tepi jalan sambil menengok ke belakang. Karena aku tahu aturan dan tata karma dalam berkendara, aku membunyikan klakson pada bocah itu sebagai tanda aku hendak lewat. Tapi, ketika aku menggas motor Yamaha Mio-ku bocah ingusan itu ada di tengah jalan. Dia kesulitan memarkirkan motornya yang lebih besar dari badannya itu, dan berada tepat di tenga jalan. Aku nggak tahu kenapa bocah itu nyebrang. Padahal aku kan udah bunyiin klakson. Seharusnya dia diam dulu di pinggir jalan, nunggu aku lewat. Karena aku menarik gas dalam-dalam, akhirnya ‘BRUKKKK’ bagian depan motorku menabrak tepat di bagian tengah sisi kanan motor bocah itu. Aku terpental tak jauh dari motorku, aku mendarat di aspal yang kasar. Tanganku menahan tubuhku agar tak membentur aspal, sehingga tangan kananku lecet. Aku mendengar suara helmku membentur aspal. Aku mendarat dengan posisi sujud. Seketika itu juga aku merasakan ada darah yang mengalir di wajahku. Seorang bapak-bapak langsung membawaku ke sebuah klinik yang berada tepat di depan TKP. Tubuhku terasa lemas, kepalaku pusing dan aku sangat ketakutan. Aku tak tahu keadaan motorku tersayang, aku sangat mengkhawatirkannya, karena aku sangat sayang pada motor itu L
                Setelah dibaringkan diatas sebuah kasur khusus pasien, aku langsung diimpus oleh seorang bidan yang menjaga klinik tersebut. Bapak-bapak yang menolongku pun menanyakan alamat rumahku, tapi aku terlalu lemas karena merasa terguncang atas kejadian itu, sehingga aku nggak bisa banyak bicara. Tapi, kenapa aku nggak pingsan? Aku ingin pingsan!! Untungnya, ada seorang siswi SMA yang merupakan teman sekolahku waktu SD. Akhirnya dia dan bapak-bapak itu pergi memberitahu orang tuaku. Kebetulan TKP terletak di depan klinik dan SMA negri tempat teman SDku bersekolah. Sangat kebetulan, ironi diatas ironi!
                Dalam keadaan terjaga, aku merasakan darah mengalir dari hidung dan mulutku, aku juga merasa sangat mual. Sungguh menyiksa, apa lagi pikiranku dipusingkan oleh orang tuaku. Aku jadi pepes kalo mereka tahu! Apa lagi mamah! Tak lama kemudian mamahku datang dengan seorang tukang ojek. Mamah langsung mengahmpiriku sambil mengusap keningku tanpa bicara sepatah kata pun. Mungkin beliau shok L
                Bagaimana keadaan bocah itu? Ah, aku hampir lupa! Mana bocah sialan itu!!! Ternyata, bocah ingusan itu sudah pulang ke rumahnya dengan motornya! Sial!!Ibu bidan yang merawatku tak henti-hentinya, mengumpat pada bocah itu. Padahal bocahnya nggak ada -_-.  Orang tua bocah itu pun datang, dia marah-marah dan langsung beradu mulut dengan ibu bidan, membuat kepalaku semakin pusing!
                “Mana anak bapak! Tidak bertanggung jawab sama sekali!” Teriak ibu bidan sambil tolak pinggang, untung bukan tolak cinta. Bisa-bisa bapak itu patah hati, langsung galau deh -_-
                “Tanggung jawab apanya! Jelas-jelas anak itu yang menabrak anak saya!” Teriak Bapak itu tak mau kalah.
                “Telinga nak saya berdarah! Dia terluka parah, anak saya dirawat di klinik sekarang!!” Teriak bapak itu lagi.
                “Dirawat?!! Wong, dia bisa pulang naek motor sendirian kok lukanya parah! Ngarang!” Teriak ibu bidan, sewot.
                Itulah percakapan, ehm, teriakan antara Bapak sang bocah dan Ibu bidan yang kuingat. Kira-kira seperti itulah. Ibuku hanya diam saja, mungkin dia masih shok. Untuk memastikan kebenarannya, tukang ojek diutus untuk melihat keadaan si bocah. Kemudian, ayahku datang. Dia langsung Tanya sana-sini tentang apa yang terjadi. Dan tentu saja, ibu bidan lah yang paling semangat menjawab pertanyaan ayahku dengan semangat seorang bidan 45!
                Sang tukang ojek kembali ke klinik. Ternyata si bocah hanya mengalami pendarahan pada telinganya. Dia dibawa ke klinik cuman untuk di peirksa kok, bukan dirawat. Halah si bapak ini!!
                Darah berhenti mengalir dari hidung dan mulutku. Tapi, aku merasa mual dan… Hooeeekkss!!! Aku muntah darah. Semua orang dalam ruangan itu panik.
                “Astagfirullah, bawa ke rumah sakit aja, pak! Sepertinya, darah ini akibat dadanya membentur aspal. Bukannya nakut-nakutin, tapi pernah ada kejadian seperti ini pak. Karena nggak dirawat di rumah sakit, dia meninggal” Kata ibu bidan.
                Kemudian ayah dan ibuku langsung pergi mencari pamanku yang bekerja sebagai seorang mantri di puskesmas. Beberapa siswi SMA mengelilingiku, diantara mereka ada tiga orang yang merupakan temanku waktu SD dan SMP. Teman SMA-ku juga datang. Darah hitam kental aku muntahkan dari dalam perutku. Rasanya sangat tidak enak!! Tubuhku sekain terasa lemas, tapi kenapa aku tidak pingsan!!! Aku ingin pingsan saja!!
                Ayahku dan ibuku datang bersama pamanku, aku langsung dibawa ke rumah sakit dengan mobil Xenia milik pamanku. Di dalam mobil aku masih muntah darah, dadaku menjadi sesak. Ditambah dengan mobil yang goyang-goyang akibat jalan yang berlubang di sana-sini.
gambar rontgen 1.A
gambar rontgen 1.B
                Sesampainya di UGD rumah sakit X, dokter langsung mendiagnosa ada yang luka di kepalaku. Padahal aku udah pake helm! Aku langsung dibawa ke ruang radiologi untuk di-rontgen. Tapi, hasil ront-gen nggak menunjukkan hasil yang baik. Akhirnya aku langsung di rujuk ke rumah sakit Y untuk di CT-Scan, karena alat CT-Scan milik rumah sakit X sedang rusak. Aku langsung dibawa ke rumah sakit Y dengan ambulance.
                Setelah menunggu seorang pasien yang sedang di CT-Scan juga, akhirnya tiba giliranku di CT-Scan. Akhirnya!! Perasaanku campur aduk. Ada rasa takut kepalaku rusak dan rasa penasaran di CT-Scan. Maklum, baru pertama kali ini aku dirawat di rumah sakit #bangga.
gambar ct-scan 1
gambar ct-scan 2
                Dalam keadaan sangat lemas, sebagian tubuhku masuk ke mesin yang berwarna putih itu. Cahaya terang dari mesin itu menyilaukan mataku. Ah, kepalaku sedang diphoto rupanya. Setelah selesai, aku langsung dibawa ke rumah sakit X untuk diopname. Aku dirawat di lantai 2 ruang 207 bersama beberapa pasien lainnya. Selama dirawat aku ditangani oleh dokter sarap, eh, dokter spesialis syaraf maksudnya. Tapi, kurasa nggak ada yang salah dengan kepala atau syarafku. Buktinya aku nggak pingsan! Bahkan nggak pernah pingsan sampai sekarang!!

                Aku dirawat selama beberapa hari. Selama diopname, aku merasa tubuhku sehat wal afiat. Hanya lidahku yang tergigit dan telapak tangan kananku yang tersa sakit. Selain itu, baik-baik saja. Bahkan pada suatu malam aku nggak bisa tidur alias insomnia, kebiasaanku. Aku merupakan pasien yang paling aktif, nggak pernah bisa diem, keluar ruangan, rajin nontn tv, bahkan aku sempat foto-foto dengan muka lebam, hehe. Lumayan, kapan lagi bisa foto dengan pipi Chubby alias bengkak :p
                Setelah dipastikan sehat. Aku langsung dipulangkan. Senang rasanya bisa pulang. Nggak disuntik lagi deh, hore!! :D
                Sudah dua hari aku di rumah. Si bocah itu nggak ngejenguk aku, nggak tahu diri banget yah. Pada sore harinya, hidungku mengeluarkan darah. Awalnya hanya sedikit, tapi semakin lama semakin banyak. Bahkan aku menghabiskan dua lusin tisu. Karena darah yang keluar semakin banyak, aku dibawa lagi ke rumah sakit X. Dalam perjalanan yang cukup jauh, darahku terus menerus menetes memenuhi ember yang diletakan di pangkuanku. Mobil yang sering goyang-goyang membuatku mual. Aku muntah mengeluarkan semua makananku pada hari itu dan darah!! Ya, ada darah hitam kental keluar bersama makananku itu!!
                Sesampainya di UGD rumah sakit X, aku langsung merasa lemas karena mengeluarkan banyak darah. Apa lagi ditambah udara dingin ala ruangan UGD rumah sakit. Aku masih muntah-muntah. Tapi, yang keluar hanya darah. Mungkin makanan di perutku sudah habis terkuras.
                Seorang dokter mengatakan bahwa ada yang salah dengan hidungku, darah yang aku muntahkan juga merupakan darah hidung yang turun ke perut. Darah bercampur dengan asam lambung, menimbulkan rasa mual, sehingga aku muntah-muntah. Kemudian, dokter menyuntikku agar aku memuntahkan semua darah yang ada di perutku. Selama perjalanan ke ruang opname, aku memuntahkan banyak darah. Dengan mata yang merem-melek, aku melihat semua orang yang ada di rumah sakit melihatiku. Aduh malu, aku belum mandi >,< *digampar pake suntikan*.
gambar rontgen B.1
                Aku diopname pada ruangan yang sama. Esok harinya, aku langsung dibawa ke rauang radologi untuk di-rontgen ulang. Kali ini, hidungku dan batok kepalaku yang dirontgen. Selesai di-rontgen, aku langsung dibawa ke ruangan dokter spesialis THT. Disana hidungku direkam. Ternyata, tulang hidungku bengkok dan tulang diantara kedua mataku retak karena benturan hidungku dengan helm. Bolong hidung bagian kiriku lebih lebar dari pada yang kanan akibat tukang hidung yang bengkok. Sedangkan retak patda tulang diantara mata menyebabkan pembuluh darahku pecah dan mengalami pendarahan. Itu menurut dokter THT.
gambar rontgen B.2
                Dokter menyarankan untuk dioperasi agar hidungku sembuh total. OMG! Operasi? Oh No!!! Ayahku kaget, beliau tak mau aku dioperasi. Aku pun sama, nggak mau!!! Akhirnya, dokter melakukan tindakan alternatif. Hidungku di sumpel dan dikasih obat untuk mencegah pendarahan. Hal ini sangat menyiksa, membuatku sulit bernafas.
                Pada kunjunganku ke rumah sakit yang kedua ini, aku diopname selama lima hari. Pada hari ke-empat, tiba-tiba aku teringat kecelakaan itu, lalu menangis. Ternyata rasa kagetku baru datang.
                Kecelakaan itu telah dilaporkan pada pihak yang berwajib. Motorku dan motor bocah itu disita. Aku mendapatkan santunan dari Jasa Raharja, sekolah, dan keluarga. Yah, lumayan buat bayar biaya rumah sakit. Bahkan pihak rumah sakit memberikan diskon. Apa mungkin karena kau datang dua kali ya -.-
                Setelah pulang dari rumah sakit aku benar-benar menjaga hidungku agar tak tersenggol. Fungsi penciumanku juga rusak dan hidungku menjadi sensitive pada debu, asap dan dingin. Benda yang berbau menyengat seperti parfum, ikan dan lain-lain. Jika terkena dingin hidungku langsung berair. Tentu saja membuatku terganggu dan kesal.
                Motor mio kesayanganku nggak apa-apa. Walaupun bodinya diganti karena banyak lecet, tapi performa mesin Yamahanya masih kayak baru, cing!
                Sampai saat ini, aku belum tau seperti apa wajah bocah sialan itu. Bukannya ngejenguk malah ngacir, nggak tanggung jawab banget sih! Hidungku pun masih rusak. Penciumanku membaik, tapi benda yang mempunai bau menyengat sering membuatku mual dan pusing. Hidungku pasti berlendir, ketika aku keseringan minum air dingin. Sampai saat ini aku masih benci sama bocah SMP itu! Sial! Aku jadi semakin benci sama yang namanya anak kecil!
                Secara teknis, aku yang nabrak bocah itu. Tapi, secara kronologis, bocah itulah yang salah! Udah dikasih tanda masih aja ngotot balik arah. Udah nggak tau aturan lalu lintas, badannya nggak bisa bawa motor, hidup lagi!! -_-
                Bocah itu yang salah! Bocah itu yang salah! Bocah itu yang salah! Buktinya, pasca kecelakaan itu aku oke-oke aja kalo nyetir motor dengan kecepatan tinggi. Gaya ugal-ugalan itu udah biasa, aku emang nggak bisa pelan kalo bawa motor, bahkan di jalan yang padat. Hampir nabrak, hampir ketabrak, hampir jatoh, hampir kepeleset karena jalan licin, itu udah biasa!!! Aku bisa menghindar dari semuanya itu! Intinya, kecelakaan yang aku alami ini bukan karena ketidakbecusanku berkendara. Tapi, bocah tol*l itu yang nggak tahu aturan!!! Lagian masih bocah udah bawa motor! Nggak tahu bahanya jalan raya sih!
                Aku hanya berharap, hidungku kembali seperti semula. Normal, kalo makan ikan nggak mual, parfum wanginya enak, kena dingin hidung nggak berair, pokoknya kau ingin hidungku sehat seperti sebelumnya!!! Amin
                Sekian kisahku dijalan raya. Ini kisah nyata loooh! Buat teman-teman semoga kisahku ini bisa jadi pelajaran ya, keep safety riding! Bagi yang nggak ngerasa jago bawa kendaraan sebaiknya pelan aja, nggak usah kebut-kebutan :p