Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Respect to the whole world

               Kali ini essay saya masih melanjutkan essay sebelumnya yang berjudul 'Mendengarkan' yang belum baca ayo ayo baca dulu! Nah kali ini tema ataupun dasar dari pembahasannya masih sama yaaitu mengenai mendengarkan. Selamat membaca yaa :)
     
               Pernah nggak sih kalian ngerasa pas lagi ngomong, eh gak didengerin. Padahal kita udah ngomong panjang kali lebar sampe mulut berbuah, eh, berbusah.
Pasti kesel dong? Marah dong? Well, wajar aja. Karena jika kita udah bicara, eh yang diajak bicara gak konek-konek sama aja dia nganggep kita bebek, udah wek-wek-an tetep aja dicuekin, huhu, cape deh.
mendengarkan membuatmu 
                Atau mungkin kalian juga pernah merasa nggak ada yang peduli sama kalian? Misalnya, pas lagi sedih kita curhat ke teman, eh, temen kita nanggepinnya biasa aja. Marah, gondok di hati, dendam deh. Huh sebel gak sih kalo ngalamun kejadian diatas. Yaw, yaw sabar aja, tenangin pikiran dan dinginkan hati (kebalik gak sih? Tenangkan hati dinginkan pikiran? Yang mana aja boleh deh, hehehe).  Coba deh kita koreksi diri kita sendiri dan bertanya pada diri sendiri, mengapa orang lain, temen kita, sampai melakukan hal tersebut??? Kenapa kita sebagai manusia seperti tak dianggap, nggak di hormati selayaknya manusia? Jawabannya ada pada diri kalian sendiri, yaitu karena kalian nggak menghargai orang lain, jadi orang lain juga males ngehargain kalaian.
*Pembaca : “Harganya berapa??”
*Saiiiah : “Sarebu tilu”
                Dan lebih spesifiknya lagi karena sifat egois manusia yang lebih dominan dari pada hati nurani. Gimana nggak disebut egois, kalo kalian ingin dihargai tapi, kalian nggak menghargai. So, jika kita menginginkan orang lain ‘memberikan’ sesuatu pada kita. Maka langkah pertama adalah memberi mereka terlebih dahulu. Jangan nunggu dikasih orang lain, pengemis itu namanya. Mau jadi pengemis? Nggak dong.
                Um, puyeng ya bacanya, pabalieut bahasanya. Maklum nulisnya lagi tengah malem, hehe *curcol*
Intinya sih, ya tadi, kita harus respect dalam segala hal ke rang lain. Setelah kita respect pasti orang lain juga akan respect sama kita.
Teman selamanya :)
                Misalnya, kalau mau temen-temen kamu baik sama kamu, kamu harus baik juga sama temen-temen kamu, terus kalau kamu mau diperhatiin pacar, kamu juga harus merhatiin pacar. Kalau kamu mau dihormati orang lain, ya hormati juga orang lain. Kalau kamu mau dicintai seseorang, ya cintai dia dulu dengan sunggguh-sungguh. So, jadi orang jangan egois. Respect to the Whole World. So you can see how beautiful  friendship, love, and peace are. What are you waiting for, guys!! Let's respect to the whole world right now!!!
                Udah dulu agh, ngantuk :p

Rabu, 05 Oktober 2011

Mendengarkan

                  Memang sulit melakukan hal kecil yang berat untuk dilakukan, seperti "mendengarkan". Apa lagi jika kita adalah remaja yang penuh dengan mimpi, fantasi, cita-cita, obsesi, ambisi dan sejenisnya.
Remaja. Mungkin sudah menjadi sifat alami remaja untuk merasa hebat, semua tindakannya benar, tapi itu hanyalah "perasaan" saja. Jadi jangan heran jika remaja sangat 'sulit' untuk mendengarkan perkataan orang lain.
                 Dialami olehku sendiri, meremehkan sesuatu adalah hal yang menyenangkan bagiku. Diri merasa hebat, tangguh dan segala-galanya. Padahal nilaiku nol! NOL besar!
Ya Tuhan, selama ini akulah yang bodoh, akulah yang kurang, akulah yang NOL!
Entah ini terjadi pada diriku saja atau juga pada remaja yang lainnya. Aku hanya ingin berbagi pengalaman, agar kalian tak mengalaminya
                 Lalu apa? Apa jalan keluar dari tinggi hati dan besar kepala ini? Remaja sering kali berbohong memiliki sesuatu agar dicap 'Hebat'. Pertanyaanku hebat itu seperti apa? Mungkinkah hebat itu relatif? Lalu bagaimana agar kita terlepas dari tinggi hati dan besar kepala ini?
Hanya kepada Tuhan-lah seharusnya kita menanyakan hal itu. Karena dia Maha mengetahui, Maha kuasa, Maha dari segala maha. Sedangkan kita? Kita hanyalah hamba-Nya yang tak memiliki kekuatan apapun. Tak ada manusia yang sempurna hidupnya. Karena kesempurnaan  hanyalah milik-Nya. Ya Tuhan! Sunggu sombong diriku, padahal aku tak memiliki kuasa apapun atas apapun. Seharusnya kau tahu diri, seharusnya aku bercermin bahwa aku hanyalah manusia biasa sama seperti yang lainnya. Memiliki kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh-Nya. Seharusnya aku sadar bahwa setiap orang itu istimewa, memiliki tempat mereka masing-masing. Jadi, tak ada sesentipun tempat untuk kesombonganku di hadapan orang lain, karena kita sama
                 Lalu apa arti dari kelebihan dan kekurangan yang diberikan oleh-Nya? Untuk apa? Apakan jawabanyya relatif juga? Mungkin saja... Bagiku kelabihan yang dibrikan oleh Tuhan harus kita syukuri dan kita manfaatkan untuk diri kita dan orang disekeliling kita. Sedangkan kekurangan adalah tempat dimana akan ada seseorang yang istimewa yang akan melengkapi kita sehingga kita bisa menjadi orang yang lebih baik
                Hidup ini berat! Dunia ini berton-ton beratnya. Tak mungkin hanya aku yang membawanya pada kedamaian, tak mungkin hanya aku yang membawanya kemakmuran. Kita harus membawanya bersama-sama.
                Remaja. Masa kita belajar dan mendengarkan orang lain, sehingga kitamengetahui banyak cerita yang mewarnai hidup kita. Mendengarkan seruan alam, mendengarkan keagungan Tuhan, dan mendengarkan suara hati kecil kita agar kita menjadi dewasa pada saatnya kita harus menjadi dewasa, menjadi hebat pada saatnya kita harus menjadi hebat Mari belajar mendengarkan

Selasa, 27 September 2011

Bukan salahku!!!





Halo, pernah mengalami pengalaman yang buruk? Semua mahluk hidup pasti pernah mengalami pengalaman, baik itu yang buruk maupun yang baik. Dan pada akhirnya semua mahluk hidup akan mengalami pengalaman yang paling buruk, yaitu kematian.
                Aku suka banget sama balapan. Sejak aku tahu dunia balapan dan sejak aku bisa nyetir motor. Bagiku, membawa kendaraan dengan pelan adalah hal yang membosankan. Kecepatan minimumku bisaanya 60 km/jam, kecepatan normal 80 km/jam, dan kecepatan maksimum 100 km/jam. Kecepatan yang wajar bagi cewek penakut kayak aku J
                Aku sering denger, perkataan orang tua, mereka bilang kalo “orang yang belum pernah mengalami kecelakaan nggak akan jago nyetir”. Entah dari mana mitos itu berasal. Tapi, pastinya kecelakaan adalah hal yang nggak menyenangkan. Aku pernah mengalami kecelakaan motor setahun yang lalu, dan hal itu masih menjadi mimpi buruk bagiku L
                Peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah ulangan umum smester satu. Ketika itu, aku sudah kelas tiga SMA. Biasanya setelah ulangan umum smester, sekolah mengadakan class meeting yang diisi odengan pertandingan olah raga dan permainan tradisional antar kelas selama satu minggu penuh. Aku sendiri ikut lomba maen congklak, dan langsung kalah pada babak penyisihan. Maen congklak aja kalah -_- #galau.
                Sebenarnya, selama class meeting berlangsung tidak ada absensi, jadi siswa boleh bolos. Suatu hari, ayahku menyarankan aku untuk nggak pergi ke sekolah. Tapi, aku memaksa pergi ke sekolah karena aku mau bantuin guru sejarah yang notabene guru terfavorit di sekolahku, untuk memeriksa jawaban ulangan umum para siswa. Maklum, murid teladan *diguyur Pembina osis berkumis baplang*.
                Di tengah perjalanan, ada seorang anak kelas satu SMP yang mengendarai motor Suzuki Skywave, yang bodinya besar dan berat itu. Dari kejauhan aku udah tau kalo bocah itu mau balik arah, karena dia memarkirkan motornya di tepi jalan sambil menengok ke belakang. Karena aku tahu aturan dan tata karma dalam berkendara, aku membunyikan klakson pada bocah itu sebagai tanda aku hendak lewat. Tapi, ketika aku menggas motor Yamaha Mio-ku bocah ingusan itu ada di tengah jalan. Dia kesulitan memarkirkan motornya yang lebih besar dari badannya itu, dan berada tepat di tenga jalan. Aku nggak tahu kenapa bocah itu nyebrang. Padahal aku kan udah bunyiin klakson. Seharusnya dia diam dulu di pinggir jalan, nunggu aku lewat. Karena aku menarik gas dalam-dalam, akhirnya ‘BRUKKKK’ bagian depan motorku menabrak tepat di bagian tengah sisi kanan motor bocah itu. Aku terpental tak jauh dari motorku, aku mendarat di aspal yang kasar. Tanganku menahan tubuhku agar tak membentur aspal, sehingga tangan kananku lecet. Aku mendengar suara helmku membentur aspal. Aku mendarat dengan posisi sujud. Seketika itu juga aku merasakan ada darah yang mengalir di wajahku. Seorang bapak-bapak langsung membawaku ke sebuah klinik yang berada tepat di depan TKP. Tubuhku terasa lemas, kepalaku pusing dan aku sangat ketakutan. Aku tak tahu keadaan motorku tersayang, aku sangat mengkhawatirkannya, karena aku sangat sayang pada motor itu L
                Setelah dibaringkan diatas sebuah kasur khusus pasien, aku langsung diimpus oleh seorang bidan yang menjaga klinik tersebut. Bapak-bapak yang menolongku pun menanyakan alamat rumahku, tapi aku terlalu lemas karena merasa terguncang atas kejadian itu, sehingga aku nggak bisa banyak bicara. Tapi, kenapa aku nggak pingsan? Aku ingin pingsan!! Untungnya, ada seorang siswi SMA yang merupakan teman sekolahku waktu SD. Akhirnya dia dan bapak-bapak itu pergi memberitahu orang tuaku. Kebetulan TKP terletak di depan klinik dan SMA negri tempat teman SDku bersekolah. Sangat kebetulan, ironi diatas ironi!
                Dalam keadaan terjaga, aku merasakan darah mengalir dari hidung dan mulutku, aku juga merasa sangat mual. Sungguh menyiksa, apa lagi pikiranku dipusingkan oleh orang tuaku. Aku jadi pepes kalo mereka tahu! Apa lagi mamah! Tak lama kemudian mamahku datang dengan seorang tukang ojek. Mamah langsung mengahmpiriku sambil mengusap keningku tanpa bicara sepatah kata pun. Mungkin beliau shok L
                Bagaimana keadaan bocah itu? Ah, aku hampir lupa! Mana bocah sialan itu!!! Ternyata, bocah ingusan itu sudah pulang ke rumahnya dengan motornya! Sial!!Ibu bidan yang merawatku tak henti-hentinya, mengumpat pada bocah itu. Padahal bocahnya nggak ada -_-.  Orang tua bocah itu pun datang, dia marah-marah dan langsung beradu mulut dengan ibu bidan, membuat kepalaku semakin pusing!
                “Mana anak bapak! Tidak bertanggung jawab sama sekali!” Teriak ibu bidan sambil tolak pinggang, untung bukan tolak cinta. Bisa-bisa bapak itu patah hati, langsung galau deh -_-
                “Tanggung jawab apanya! Jelas-jelas anak itu yang menabrak anak saya!” Teriak Bapak itu tak mau kalah.
                “Telinga nak saya berdarah! Dia terluka parah, anak saya dirawat di klinik sekarang!!” Teriak bapak itu lagi.
                “Dirawat?!! Wong, dia bisa pulang naek motor sendirian kok lukanya parah! Ngarang!” Teriak ibu bidan, sewot.
                Itulah percakapan, ehm, teriakan antara Bapak sang bocah dan Ibu bidan yang kuingat. Kira-kira seperti itulah. Ibuku hanya diam saja, mungkin dia masih shok. Untuk memastikan kebenarannya, tukang ojek diutus untuk melihat keadaan si bocah. Kemudian, ayahku datang. Dia langsung Tanya sana-sini tentang apa yang terjadi. Dan tentu saja, ibu bidan lah yang paling semangat menjawab pertanyaan ayahku dengan semangat seorang bidan 45!
                Sang tukang ojek kembali ke klinik. Ternyata si bocah hanya mengalami pendarahan pada telinganya. Dia dibawa ke klinik cuman untuk di peirksa kok, bukan dirawat. Halah si bapak ini!!
                Darah berhenti mengalir dari hidung dan mulutku. Tapi, aku merasa mual dan… Hooeeekkss!!! Aku muntah darah. Semua orang dalam ruangan itu panik.
                “Astagfirullah, bawa ke rumah sakit aja, pak! Sepertinya, darah ini akibat dadanya membentur aspal. Bukannya nakut-nakutin, tapi pernah ada kejadian seperti ini pak. Karena nggak dirawat di rumah sakit, dia meninggal” Kata ibu bidan.
                Kemudian ayah dan ibuku langsung pergi mencari pamanku yang bekerja sebagai seorang mantri di puskesmas. Beberapa siswi SMA mengelilingiku, diantara mereka ada tiga orang yang merupakan temanku waktu SD dan SMP. Teman SMA-ku juga datang. Darah hitam kental aku muntahkan dari dalam perutku. Rasanya sangat tidak enak!! Tubuhku sekain terasa lemas, tapi kenapa aku tidak pingsan!!! Aku ingin pingsan saja!!
                Ayahku dan ibuku datang bersama pamanku, aku langsung dibawa ke rumah sakit dengan mobil Xenia milik pamanku. Di dalam mobil aku masih muntah darah, dadaku menjadi sesak. Ditambah dengan mobil yang goyang-goyang akibat jalan yang berlubang di sana-sini.
gambar rontgen 1.A
gambar rontgen 1.B
                Sesampainya di UGD rumah sakit X, dokter langsung mendiagnosa ada yang luka di kepalaku. Padahal aku udah pake helm! Aku langsung dibawa ke ruang radiologi untuk di-rontgen. Tapi, hasil ront-gen nggak menunjukkan hasil yang baik. Akhirnya aku langsung di rujuk ke rumah sakit Y untuk di CT-Scan, karena alat CT-Scan milik rumah sakit X sedang rusak. Aku langsung dibawa ke rumah sakit Y dengan ambulance.
                Setelah menunggu seorang pasien yang sedang di CT-Scan juga, akhirnya tiba giliranku di CT-Scan. Akhirnya!! Perasaanku campur aduk. Ada rasa takut kepalaku rusak dan rasa penasaran di CT-Scan. Maklum, baru pertama kali ini aku dirawat di rumah sakit #bangga.
gambar ct-scan 1
gambar ct-scan 2
                Dalam keadaan sangat lemas, sebagian tubuhku masuk ke mesin yang berwarna putih itu. Cahaya terang dari mesin itu menyilaukan mataku. Ah, kepalaku sedang diphoto rupanya. Setelah selesai, aku langsung dibawa ke rumah sakit X untuk diopname. Aku dirawat di lantai 2 ruang 207 bersama beberapa pasien lainnya. Selama dirawat aku ditangani oleh dokter sarap, eh, dokter spesialis syaraf maksudnya. Tapi, kurasa nggak ada yang salah dengan kepala atau syarafku. Buktinya aku nggak pingsan! Bahkan nggak pernah pingsan sampai sekarang!!

                Aku dirawat selama beberapa hari. Selama diopname, aku merasa tubuhku sehat wal afiat. Hanya lidahku yang tergigit dan telapak tangan kananku yang tersa sakit. Selain itu, baik-baik saja. Bahkan pada suatu malam aku nggak bisa tidur alias insomnia, kebiasaanku. Aku merupakan pasien yang paling aktif, nggak pernah bisa diem, keluar ruangan, rajin nontn tv, bahkan aku sempat foto-foto dengan muka lebam, hehe. Lumayan, kapan lagi bisa foto dengan pipi Chubby alias bengkak :p
                Setelah dipastikan sehat. Aku langsung dipulangkan. Senang rasanya bisa pulang. Nggak disuntik lagi deh, hore!! :D
                Sudah dua hari aku di rumah. Si bocah itu nggak ngejenguk aku, nggak tahu diri banget yah. Pada sore harinya, hidungku mengeluarkan darah. Awalnya hanya sedikit, tapi semakin lama semakin banyak. Bahkan aku menghabiskan dua lusin tisu. Karena darah yang keluar semakin banyak, aku dibawa lagi ke rumah sakit X. Dalam perjalanan yang cukup jauh, darahku terus menerus menetes memenuhi ember yang diletakan di pangkuanku. Mobil yang sering goyang-goyang membuatku mual. Aku muntah mengeluarkan semua makananku pada hari itu dan darah!! Ya, ada darah hitam kental keluar bersama makananku itu!!
                Sesampainya di UGD rumah sakit X, aku langsung merasa lemas karena mengeluarkan banyak darah. Apa lagi ditambah udara dingin ala ruangan UGD rumah sakit. Aku masih muntah-muntah. Tapi, yang keluar hanya darah. Mungkin makanan di perutku sudah habis terkuras.
                Seorang dokter mengatakan bahwa ada yang salah dengan hidungku, darah yang aku muntahkan juga merupakan darah hidung yang turun ke perut. Darah bercampur dengan asam lambung, menimbulkan rasa mual, sehingga aku muntah-muntah. Kemudian, dokter menyuntikku agar aku memuntahkan semua darah yang ada di perutku. Selama perjalanan ke ruang opname, aku memuntahkan banyak darah. Dengan mata yang merem-melek, aku melihat semua orang yang ada di rumah sakit melihatiku. Aduh malu, aku belum mandi >,< *digampar pake suntikan*.
gambar rontgen B.1
                Aku diopname pada ruangan yang sama. Esok harinya, aku langsung dibawa ke rauang radologi untuk di-rontgen ulang. Kali ini, hidungku dan batok kepalaku yang dirontgen. Selesai di-rontgen, aku langsung dibawa ke ruangan dokter spesialis THT. Disana hidungku direkam. Ternyata, tulang hidungku bengkok dan tulang diantara kedua mataku retak karena benturan hidungku dengan helm. Bolong hidung bagian kiriku lebih lebar dari pada yang kanan akibat tukang hidung yang bengkok. Sedangkan retak patda tulang diantara mata menyebabkan pembuluh darahku pecah dan mengalami pendarahan. Itu menurut dokter THT.
gambar rontgen B.2
                Dokter menyarankan untuk dioperasi agar hidungku sembuh total. OMG! Operasi? Oh No!!! Ayahku kaget, beliau tak mau aku dioperasi. Aku pun sama, nggak mau!!! Akhirnya, dokter melakukan tindakan alternatif. Hidungku di sumpel dan dikasih obat untuk mencegah pendarahan. Hal ini sangat menyiksa, membuatku sulit bernafas.
                Pada kunjunganku ke rumah sakit yang kedua ini, aku diopname selama lima hari. Pada hari ke-empat, tiba-tiba aku teringat kecelakaan itu, lalu menangis. Ternyata rasa kagetku baru datang.
                Kecelakaan itu telah dilaporkan pada pihak yang berwajib. Motorku dan motor bocah itu disita. Aku mendapatkan santunan dari Jasa Raharja, sekolah, dan keluarga. Yah, lumayan buat bayar biaya rumah sakit. Bahkan pihak rumah sakit memberikan diskon. Apa mungkin karena kau datang dua kali ya -.-
                Setelah pulang dari rumah sakit aku benar-benar menjaga hidungku agar tak tersenggol. Fungsi penciumanku juga rusak dan hidungku menjadi sensitive pada debu, asap dan dingin. Benda yang berbau menyengat seperti parfum, ikan dan lain-lain. Jika terkena dingin hidungku langsung berair. Tentu saja membuatku terganggu dan kesal.
                Motor mio kesayanganku nggak apa-apa. Walaupun bodinya diganti karena banyak lecet, tapi performa mesin Yamahanya masih kayak baru, cing!
                Sampai saat ini, aku belum tau seperti apa wajah bocah sialan itu. Bukannya ngejenguk malah ngacir, nggak tanggung jawab banget sih! Hidungku pun masih rusak. Penciumanku membaik, tapi benda yang mempunai bau menyengat sering membuatku mual dan pusing. Hidungku pasti berlendir, ketika aku keseringan minum air dingin. Sampai saat ini aku masih benci sama bocah SMP itu! Sial! Aku jadi semakin benci sama yang namanya anak kecil!
                Secara teknis, aku yang nabrak bocah itu. Tapi, secara kronologis, bocah itulah yang salah! Udah dikasih tanda masih aja ngotot balik arah. Udah nggak tau aturan lalu lintas, badannya nggak bisa bawa motor, hidup lagi!! -_-
                Bocah itu yang salah! Bocah itu yang salah! Bocah itu yang salah! Buktinya, pasca kecelakaan itu aku oke-oke aja kalo nyetir motor dengan kecepatan tinggi. Gaya ugal-ugalan itu udah biasa, aku emang nggak bisa pelan kalo bawa motor, bahkan di jalan yang padat. Hampir nabrak, hampir ketabrak, hampir jatoh, hampir kepeleset karena jalan licin, itu udah biasa!!! Aku bisa menghindar dari semuanya itu! Intinya, kecelakaan yang aku alami ini bukan karena ketidakbecusanku berkendara. Tapi, bocah tol*l itu yang nggak tahu aturan!!! Lagian masih bocah udah bawa motor! Nggak tahu bahanya jalan raya sih!
                Aku hanya berharap, hidungku kembali seperti semula. Normal, kalo makan ikan nggak mual, parfum wanginya enak, kena dingin hidung nggak berair, pokoknya kau ingin hidungku sehat seperti sebelumnya!!! Amin
                Sekian kisahku dijalan raya. Ini kisah nyata loooh! Buat teman-teman semoga kisahku ini bisa jadi pelajaran ya, keep safety riding! Bagi yang nggak ngerasa jago bawa kendaraan sebaiknya pelan aja, nggak usah kebut-kebutan :p